Selasa, 10 April 2012

Tangkuban Perahu, Sejarah Pembentukan Dan Morfologi

Gunung Tangkuban Perahu merupakan gunungapi yang berjarak 30 kilometer sebelah utara kota Bandung. Pada gunung berapi ini dapat dijumpai hasil pembentukan gunungapi dan aktivitasnya berupa kawah, gejala mata air panas, endapan belerang, dan lainya. TInggi gunung Tangkuban Perahu adalah 2084 mdpl dengan 13 kawah yang tersebar di puncak. Bila dilihat dari Bandung, gunung Tangkuban Perahu memiliki bentuk khusus, seperti perahu yang terbalik. Bentuk khusus tersebut mendorong fantasi orang Sunda dari awal dinyatakan dalam bagian legenda Sangkuriang.
Secara geologi, gunung Tangkuban Perahu telah memainkan peran penting dalam pengembangan tinggi Parahyangan. Erupsi sangat berkontribusi ke bukit utara Bandung dengan lahar mengalir ke lembah dan menjadi batu, sehingga membentuk bentukan-bentukan yang bagus. Begitu juga aliran lumpur telah membentuk gradient cone semi-circular, yang sekarang merupakan sebuah massa yang terendapkan di lembah kuno di dekat sungai Citarum di Padalarang (18 km barat Bandung ), hal ini menyebabkan terbentuknya sebuah danau yang meliputi seluruh Bandung.
Erupsi ringan terjadi pada tahun 1969, ketika Kawah Ratu memuntahkan abu skala besar dengan tinggi 500 m. Seperti pada September 1992 ditutup untuk umum selama beberapa hari karena aktivitas seismic yang luar biasa tinggi dan dikawatirkan terjadi letusan baru. Di utara lereng gunung merupakan wilayah yang disebut Death Valley, karena sering terakumulasi gas beracun.

PEMBAHASAN
A. Sejarah Pembentukan Dan Morfologi
Dataran tinggi Bandung di Jawa Barat terletak di antara dua deretan gunungapi. Hampir seluruh dataran ini ditutupi oleh bahan-bahan atau material vulkanik. Hanya pada dua tempat ditemukan endapan-endapan sedimen yang terbentuk di laut dalam. Bagian tengah merupakan gunungapi itu sendiri, dan bagian sebelah selatan ditemukan dataran tinggi Bandung yang dahulu merupakan sebuah danau besar. Di dataran tinggi Bandung terdapat andapan-endapan danau seperti pasir, tanah liat, dan sebagainya.
Bagian utara dari danau purba ini terdiri dari arus lahar dan tufa gunung Tangkuban Perahu dan di kaki gunungapi yang datar ini terletak kota Bandung, Cimahi, Padalarang.
Jika kita mempelajari bentang alam dari daerah ini, maka akan terlihat beberapa kesatuan morfologi yang oleh Van Bamelen di bagi sebagai berikut :
a. Jalur sebelah utara yang terdiri dari daerah perbukitan sekitar Subang yang diberi nama punggung Tambakan.
b. Sebuah depresi sebelah dalam dari punggung ini.
c. Pegunungan sentral terdiri dari kompleks gunungapi.
d. Dataran tinggi Bandung sebelah selatan dari pegunungan vulkanik.
e. Daerah perbukitan sekitar Cimahi.
Sejarah geologi dataran tinggi Bandung di mulai dengan jaman Miosin. Pada waktu Miosin ini pesisir utara Jawa purba letaknya jauh sebelah dari pesisir sekarang dan terletak di sekitar Pengalengan. Daerah sebelah utara dari Pengalengan masih merupakan lautan, dimana terjadi pembentukan atau pengendapan berbagai macam batuan sedimen.
Di daerah Purwakarta kini endapan-endapan tersebut yang sampai terdiri dari tanah liat, batu karang, batu kapur, tufa, dan sebagainya. Di sekitar Bandung, endapan-endapan ini hanya terlihat pada beberapa tempat saja, karena telah tertutup oleh bahan-bahan vulkanik yang kemudian terbentuk. Umur endapan ini di tetapkan berdasarkan binatang-binatang purba yang dahulu pernah menenmpati lautan Miosin ini.
Jaman yang tenang ini disusul oleh periode yang revolusioner, dalam periode ini dalam bumi terjadi gerak-gerak melipat dan mengangkat batuan-batuan yang dibentuk menjadi pegunungan yang muncul dari atas permukaan air laut. Periode ini adalah periode pembentukan pegunungan.
Pesisir utara Jawa yang tadinya terletak sebelah selatan mulai berpindah keutara dengan kata lain sebagian daratan ditambahkan pada Jawa purba tersebut. Bagian selatan dari daerah Pengalengan diangkat. Selain dari periode pembentukan pegunungan, bekerja pula kekutan-kekuatan lain dalam bumi, yaitu kekuatan vulkanik yang membentuk gunungapi yang sisanya kini merupakan puncak tajam sekitar Cimahi misalnya gunung Selacau. Batuan-batuan yang terdapat pada gunungapi ini berupa Dasit, batuan lelehan yang mnegandung bahyak SiO2, berbeda dengan batuan yang dihasilkan oleh gunung Tangkuban Perahu kemudian.
Pada jaman kwarter terjadi pembentukan dataran Bandung seperti yang kita kenal sekarang. Sejarah daerah gunungapi ini dapat kita bagi dalam dua periode, Jaman Kwarter Tua dan Jaman Kwarter Muda.
Pada awal jaman kwarter tua aktivitas vuklkanik berpindah kesebelah utara, ketempat gunung Tangkuban Perahu sekarang berada. Pada jaman tersebut gunung Tangkuban Perahu belum lahir, namun yang ada adalah induk dari gunungapi Tangkuban perahu yaitu gunungapi Sunda.
Gunungapi Sunda yang baru muncul ini sangat besar, dan menurut rekonstruksi mempunyai panjang sekitar 20 km dan tinggi 3000 mdpl. Kini hanya sisa yang masih tertinggal. Gunungpai ini mempunyai titik parasit seperti gunung Gurangrang, yaitu gunungapi yang lebih tua dari Tangkuban Perahu. Dapat dipahami jika melihat morfologi kedua gunung tersebut. Gunungapi Tangkuban Perahu masih mempunyai lereng yang licin dengan kata lain erosi belum terlalu lama bekerja sedangkan Burangrang telah banyak terdapat lembah-lembah erosi. Gunungapi parasit lainya yang terdapat pada gunungapi Sunda adalah gunung Palasari, gunung Tunggul. Semua bahan-bahan dari gunungapi tersebut menuju keberbagai arah, terutama menuju ke arah Subang dan ke selatan menuju Bandung. Setelah beberapa lamanya bekerja, maka gunungapi raksasa meletus dengan hebatnya. Pada letusan ini terbentuk kawah yang ukuranya beberapa kali dari kaldera. Sebagian besar gunungapi Sunda tersebut runtuh.
Pada sesar Lembang, sebelah selatan terdapat suatu pegunungan panjang yang lurus memanjang dari timur ke barat. Sesar Lembang adalah sebuah sesar terbesar di daerah ini, yang melintang dari barat ke timur. Sesar ini terletak atau melalui Lembang dari mana nama sesar ini berasal yang kira-kira 10 km sebelah utara Bandung. Ini adalah sebuah sesar aktif dengan gawir sesar sangat jelas yang menghadap ke utara. Sesar ini yang panjang seluruhnya kira-kira 22 km dapat diamati sebagai suatu garis lurus dari G. Palasari di timur ke barat dekat Cisarua. Penyelidikan-penyelidikan terdahulu telah menghubungkan bahwa sesar Lembang yang dominannya adalah sesar normal terjadi setelah letusan besar gunung Sunda Purba yang berlangsung pada jaman Kwarter Tua.
Setelah letusan gunungapi Sunda, terjadilah gerak naik-turun dalam kerak bumi. Oleh gerakan ini, maka terbentuklah patahan atau sesar Lembang. Bagian sebelah utara turun sekitar 450 m dibandingkan bagian selatan. Contoh yang jelas dari patahan ini adalah pada bukit Batu dan Batu Gantung. Bukit-bukit ini yang dahulu merupakan satu arus lava, terpotong dan seakan-akan tergantung.
Van Bammelen bersintesa tentang daerah ini menganggap bahwa gerak yang terjadi bukan merupakan suatu gerak vertikal namun suatu gerak lengseran yang mengakibatkan pengerutan sedimen sebelah utara, sehingga membentuk punggung Tambakan.
Setelah pembentukan patahan Lembang, gunung Tangkuban Perahu mulai terbetuk pada jaman Kwarter muda. Terjadi erupsi yang hebat dalam bentuk tufa-slak. Hasil pertama dari gunungapi tersebut adalah efflata (bahan-bahan lepas). Sebelah utara arus slak ini menuju ke arah Segalaherang dan sebelah selatan menuju Bandung. Material yang keluar mengisi depresi Lembang. Material yang keluar mencari celah menuju ke arah selatan melalui celah-celah pada dinding patahan. Arus lahar yang mengalir sebelah barat tak menemui halangan yang berarti, karena dinding patahan tak terlalu tinggi, sehingga mulailah bagian ini di banjiri oleh bahan-bahan material Tangkuban Perahu ke arah Cimahi dan Padalarang.
Jalanya sungai Citarum pada saat itu berbeda dengan sekarang. Sungai ini mengalir kira-kira ke sebelah utara Cimahi dan berbelok ke arah Padalarang dan melalui lembah dimana sekarang terdapat sungai Cimeta. Lembah purba sungai Citarum masih dapat dikenal dari dalamnya dan lebar lembah yang di gunakan Cimeta tersebut. Sedangkan sungai Cimeta sendiri kecil dibandingkan dengan lembahnya.
Arus lahar mengalir sebelah barat dari gunungapi Tangkuban Perahu, membendung sungai Citarum sehingga terjadilah danau Bandung. Selama erupsi besar Tangkuban Perahu daerah ini telah di huni manusia. Sungai Citarum dibendung oleh arus tufa breksi dilembah yang sempit dan besar kemungkinan pembendungan ini terjadi dalam waktu yang singkat.
Disekitar Palasari ditemukan material dari batuan dengan umur diperkirakan neolitikum. Material batuan obsidian ditemukan juga disekitar gunung Malabar dan Dago dan umurnya ditaksir sekitar 3000-6000 tahun. Yang mengherankan adalah material demikian pada tempat lain tidak diketemukan. Besar kemungkinan hal ini disebabkan oleh penimbunan debu dan bahan material Tangkuban Perahu di daerah tersebut. Sungai Citarum tak lama kemudian terdapat batu gamping di barat Padalarang. Dengan demikian keringlah danau Bandung. Endapan-endapan danau ini merupakan tanah yang subur.
Setelah letusan tersebut, terjadi gerak-gerak dalam bumi yang membentuk patahan. Oleh pembentukan patahan dalam gunung berapi ini maka keluarlah lava. Erupsi yang menghasilkan lava tersebut merupakan erupsi B dari gunungapi Tangkuban Perahu. Disebelah utara aktivitas lava ni besar, yang keluar sewaktu letusan gunung Cinta, gunung Malang, dan sebagainya. Oleh pergantian bahan efflata dan lava maka gunungapi Tangkuban Perahu merupakan gunungapi berlapis, karakteristik untuk Indonesia yang disebut gunung strato.
Lava erupsi B susunanya basalt, berbeda dengan material gunung Sunda dan Burangrang yang bersusunan andesit (augit-hypersteen andesit). Lava yang mengalir sewaktu erupsi B telah menyebabkan pembentukan air terjun Dago dan juga merupakan basis dari komleks sumber-sumber air misalnya di Ciliang. Hasil letusan yang telah lapuk ini juga menyuburkan tanah di sekitar. Sesudah itu terjadi letusan-letusan yang menghasilkan material lepas yang merupakan erupsi C namun tak sehebat erupsi A. Letusan berganti-ganti keluar dari tigabelas kepundan yang menyebabkan bentuk mendatar dari puncak Tangkuban Perahu. Gunungapi Tangkuban Perahu terjadi perpindahan aktivitas pipa kepundan dari arah barat ke timur.
Erupsi pertama (A) gunungapi Tangkuban Perahu sangat hebat, material yang dikeluarkan sangat banyak sehingga dengan cara demikian mengakibatkan terbentuknya dataran tinggi Bandung.
Menurut penelitian seorang ahli geologi Belanda, Van Bammelen, di tahun 1934, riwayat letusan gunungapi Tangkuban Perahu dapat di bagi menjadi tiga periode berdasarkan coraknya, yaitu :
1. Tahap A, tahap explosive. Selama tahap ini dikeluarkan berbagai bahan letusan yang terdiri atas segala ukuran, sehingga menutupi permukaan sekitarnya dan dihanyutkan sebagai lahar atau lumpur gunungapi. Saat itu di duga bahan letusanya menutupi aliran Sungai Citarum Purba sehingga airnya menggenangi cekungan Bandung dan terjadilah Danau Bandung Purba.
2. Tahap B, tahap effusive. Pada tahap ini bahan letusan terdiri dari aliran lava.
3. Tahap C, tahap pembentukan gunung yang sekarang.
Morfologi
Morfologi gunungapi ini dapat dibagi menjadi tiga satuan morfologi utama yaitu :
o Kerucut strato aktif.
o Lereng tengah.
o Kaki.

Kerucut strato aktif menempati bagian tengah kaldera Sunda. Kawah-kawah gunungapi ini membentang dengan arah barat-timur. Beberapa kawah terletak di daerah puncak dan beberapa lainnya terletak di lereng timur. Kerucut strato aktif ini tersusun dari selang-seling lava dan piroklastik dan di bagian puncak endapan freatik.
Pola radier dengan bentuk lembah V, beberapa air terjun yang sangat umum ditemukan pada satuan morfologi ini. Morfologi lereng tengah meliputi lereng timurlaut, selatan dan tenggara gunungapi ini. Batuannya terdiri atas endapan piroklastik yang sangat tebal dan lava yang biasanya tersingkap di lembah-lembah sungai yang dalam dengan pola aliran sungai paralel dan semi memancar (semi radier). Lereng selatan dan tenggara terpotong oleh sesar Lembang, yang berarah timur-barat.
Kaki selatan menempati bagian lereng tenggara dan selatan, yang terletak pada ketinggian antara 1200 m hingga 800 m dan antara 1000 hingga 600 m di atas permukaan laut. Lereng timurlaut mempunyai pusat-pusat erupsi parasit seperti G. malang, G. Cinta dan G. Palasari. Aliran-aliran lava dan skoria berwarna kemerahan yang menempati sebagian besar daerah kaki ini adalah berasal dari pusat-pusat erupsi ini. Pola aliran sungai yang berkembang di daerah ini adalah paralel dengan bentuk lembah U yang melewati batuan keras.
Lereng selatan terletak antara sesar Lembang dan dataran tinggi Bandung di selatan. Bagian terbesar daerah ini dibentuk oleh batuan piroklastik dan endapan lahar, sedangkan lava ditemukan di dasar sungai. Pola aliran sungai yang berkembang di dalam satuan morfologi ini adalah paralel.
Stehn (1929) meneliti tentang urutan pembentukan tiap kawah di gunung ini. Dia menyimpulkan bahwa kawah tertua (I) adalah kawah Pangguyangan Badak, telah hancur karena letusan pembentukan kawah kedua atau kawah Upas (II), sehingga yang tampak sekarang dari Kawah Pangguyangan Badak hanyalah pinggiran kawahnya saja. Secara periodik letusan terjadi kembali, yang akhirnya menghancurkan Kawah Upas menjadi Kawah Upas yang selanjutnya (III).
Setelah itu, pusat letusan bergerak menghancurkan kawah I, kawah II, kawah III di bagia timur sehingga terbentuklah Kawah Ratu (IV). Letusan berikutnya terjadi di dasar kawah III dan menghasilkan Kawah Upas (V).
Kemudian terjadi lagi perpindahan pusat letusan dari arah barat ke timur dan terbentuklah Kawah Ratu (VI).
Letusan berikutnya terjadi di lereng sebelah timur, sebagai letusan lereng menghasilkan Kawah Jurig (X), Kawah Domas, Kawah Badak, Kawah Jarian (XI), dan Kawah Siluman (XII).
Aktivitas letusan kemudian bergerak ke arah barat di tahun 1896 terjadi letusan di bagian bawah Kawah Upas (II) membentuk Kawah Baru (VII). Di tahun 1910 aktivitas berikutnya ke arah timur. Di bagian bawah Kawah Ratu (VIII). Pada tahun 1926 terjadi hal yang sama, menghasilkan kawah yang lebih kecil ukuranya, dinamakan Kawah Ecoma (IX). Pada tangaal 1 Mei 1960 aktivitas letusan membentuk lubang di dasar Kawah Ratu, Kawah (XIII). Pusat letusan yang selalu berpindah sepanjang 1100 m mengakibatkan proses penghancuran pada kawah terdahulu hanya berupa pinggiran kawah saja. Akhirnya pergerakan pusat letusan dari Kawah Pangguyangan Badak ke Kawah Ratu menghasilkan bentuk puncak gunung Tangkuban Perahu menjadi tidak lancip melainkan berbentuk seperti perahu terbalik.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar